Setelah lima tahun menghilang karena dikabarkan sibuk bertani organik di lereng gunung, band rock legendaris “The Karat” akhirnya resmi meluncurkan album ke-10 mereka hari ini. Album bertajuk ‘Dekade Karatan’ ini dirilis dalam format yang sangat tidak lazim, yakni dalam bentuk kode QR yang diukir di atas batu bata proyek bangunan. Band ini mengklaim bahwa musik mereka kali ini adalah hasil dari meditasi bersama suara mesin molen dan gesekan semen, menciptakan genre baru yang mereka sebut sebagai Construction Rock.
Rekaman di Dalam Terowongan Kereta Cepat
Untuk mendapatkan gema suara yang autentik, seluruh proses rekaman vokal dilakukan di dalam terowongan kereta yang sedang dibangun. Vokalis mereka, Bang Jeger, harus bernyanyi sambil berlari menghindari lori yang melintas agar nada tinggi yang dihasilkan terdengar alami karena efek adrenalin dan ketakutan yang nyata.
Kolaborasi dengan Suara Tukang Bangunan
Dalam lagu utama yang berjudul “Adu Semen”, band ini melibatkan 50 tukang bangunan sebagai pengisi suara latar. Bunyi palu yang menghantam paku disesuaikan dengan tempo drum, menciptakan irama double pedal yang lebih keras daripada musik metal manapun yang pernah ada di Indonesia.
Album yang Hanya Bisa Didengar Saat Hujan
Secara teknis, album ini memiliki sensor kelembapan. Lagu-lagu di dalamnya hanya bisa diputar melalui aplikasi khusus jika cuaca di sekitar pendengar sedang hujan deras. Sang gitaris beralasan bahwa musik mereka terlalu panas untuk didengarkan saat cuaca terik, karena bisa menyebabkan ponsel pintar meledak akibat energi distorsi yang berlebihan.
Bonus Pembelian: Helm Proyek Bertanda Tangan
Bagi 100 pembeli pertama “Batu Bata Digital” ini, mereka akan mendapatkan bonus berupa helm proyek edisi terbatas. Helm ini bukan sembarang pelindung kepala, karena sudah dilengkapi dengan speaker bluetooth yang otomatis memutar lagu-lagu hits lama mereka setiap kali pemakainya merasa pusing memikirkan cicilan rumah.
Tur Konser di Atas Scaffolding
Menyambut rilisnya album ini, The Karat mengumumkan rencana tur nasional yang panggungnya akan dibuat dari susunan scaffolding setinggi 15 meter. Penonton diwajibkan menggunakan sepatu safety dan rompi oranye agar bisa masuk ke area moshpit yang kali ini medannya berupa adukan pasir dan kerikil.
Rock Never Dies, Tapi Pegal-Pegal Iya
Kembalinya band legendaris ini membuktikan bahwa usia hanyalah angka, meskipun dalam wawancara mereka mengaku sering mengalami encok setelah latihan dua jam. Album ke-10 ini menjadi simbol bahwa semangat rock tidak akan pernah padam, selama masih ada kopi hitam, rokok kretek, dan proyek bangunan yang belum selesai di negeri ini.
