Suasana haru menyelimuti ruang pertemuan kementerian saat Mendikbud memberikan penghargaan tertinggi kepada lima maestro seni tradisional yang dianggap “lebih purba dari sejarah itu sendiri”. Para maestro ini diberikan medali emas murni seberat satu kilogram yang sayangnya terlalu berat untuk dipakai di leher mereka yang sudah lanjut usia. Penghargaan ini diberikan bukan karena mereka populer di TikTok, melainkan karena konsistensi mereka menjaga kesenian yang bahkan anak cucu mereka sendiri tidak tahu cara memainkannya.
Maestro Gendang yang Bisa Mengatur Detak Jantung Penonton
Salah satu penerima penghargaan adalah Mbah Tunut, seorang pemain gendang yang klaimnya bisa membuat detak jantung orang yang mendengarnya selaras dengan pukulan gendangnya. Saat ia beraksi di atas panggung pemberian penghargaan, dua orang staf kementerian dilaporkan mendadak melakukan tarian tradisional secara tidak sadar karena terhipnotis oleh ritme mistisnya.
Ahli Pantun yang Belum Pernah Mengulang Kata yang Sama
Maestro berikutnya adalah seorang kakek berusia 105 tahun dari pedalaman Sumatera yang menguasai jutaan bait pantun. Ia mengaku bahwa rahasia ingatannya adalah dengan rutin memakan kamus bahasa daerah setiap pagi (dalam bentuk kiasan, tentunya). Mendikbud sempat mencoba membalas pantunnya, namun langsung menyerah setelah dua baris karena kalah rima.
Penari Tradisional yang Bisa Melayang 5 Senti dari Lantai
Dari tanah Jawa, seorang penari serimpi senior mendapatkan penghargaan karena kemampuan gerakannya yang sangat halus hingga terlihat seperti tidak menyentuh tanah. Ilmuwan yang hadir sempat mencoba memasukkan kertas di bawah kakinya saat ia menari, dan ternyata kertas tersebut bisa lewat, membuktikan bahwa kekuatan seni tradisional memang berada di luar hukum gravitasi Newton.
Pengrajin Keris yang Menempa Besi dengan Jari Telunjuk
Ada pula empu keris yang menunjukkan kebolehannya menempa besi membara hanya dengan menggunakan jari telunjuk. Penonton sempat panik, namun sang maestro hanya tersenyum sambil berkata bahwa jarinya sudah terbiasa terkena “api asmara” yang jauh lebih panas daripada api arang sejati. Hasil kerisnya diklaim bisa berdiri sendiri tanpa bantuan jin, hanya perlu sedikit rayuan.
Maestro Sastra Lisan yang Bisa Bicara dengan Angin
Penerima terakhir adalah seorang nenek yang menguasai sastra lisan kuno yang konon bisa memanggil hujan atau menghentikan badai hanya dengan senandung. Saat ia menerima penghargaan, cuaca di luar gedung yang tadinya terik mendadak menjadi mendung syahdu, membuat tamu undangan terburu-buru mengecek jemuran di rumah masing-masing melalui CCTV ponsel.
Budaya Adalah Identitas, Bukan Sekadar Konten
Mendikbud dalam pidatonya menekankan bahwa para maestro ini adalah “server” asli kebudayaan bangsa sebelum adanya penyimpanan cloud. Meskipun dunia semakin digital, kearifan lokal para maestro ini dianggap sebagai kode etik manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun, apalagi oleh AI yang cuma bisa bikin gambar kucing.
