zonamusiktop – Perseteruan di balik panggung dunia musik kembali mencuat. Kali ini, giliran Sting, musisi legendaris yang juga vokalis utama band The Police, harus menghadapi gugatan hukum dari salah satu rekan bandnya sendiri, Andy Summers. Gugatan tersebut terkait soal pembagian royalti lagu-lagu yang hingga kini masih menjadi sumber pemasukan besar dari katalog musik The Police.
Meski band yang dibentuk pada akhir 1970-an itu sudah bubar lebih dari tiga dekade lalu, karya-karyanya masih terus diputar di berbagai platform, mulai dari radio, televisi, hingga layanan streaming digital. Lagu-lagu seperti Every Breath You Take, Message in a Bottle, hingga Roxanne tetap abadi di hati para pendengar lintas generasi. Justru karena nilai ekonominya yang tidak pernah padam, persoalan hak cipta dan pembagian royalti kembali menjadi batu sandungan.
Andy Summers menilai bahwa Sting menikmati porsi lebih besar dari pendapatan lagu-lagu yang diciptakan bersama, padahal kontribusi tiap anggota band dalam proses kreatif tidak bisa diabaikan. Menurut Summers, musik The Police lahir dari kolaborasi, bukan hanya dari satu orang. Gitar yang ia mainkan, ritme yang dibangun bersama Stewart Copeland pada drum, dan vokal Sting adalah satu kesatuan yang melahirkan identitas The Police.
Bagi banyak penggemar, gugatan ini terasa ironis. The Police selama ini dipandang sebagai band yang tidak hanya produktif, tetapi juga punya ikatan kuat di masa kejayaannya. Namun, seperti banyak grup besar lainnya, masalah finansial kerap menjadi pemicu retaknya hubungan personal. Tidak sedikit band besar dunia, dari The Beatles hingga Oasis, yang akhirnya terjebak pada konflik serupa.
Sting sendiri, yang kini juga dikenal sebagai solois sukses dengan segudang penghargaan, belum memberi tanggapan langsung soal gugatan ini. Ia selama ini dikenal sebagai musisi yang tenang, bahkan cenderung filosofis dalam menyikapi persoalan hidup. Akan tetapi, publik menunggu bagaimana ia akan menanggapi klaim yang datang dari orang yang dulu berjuang bersamanya membangun kejayaan The Police.
Kasus hukum ini juga menyoroti rumitnya tata kelola royalti di industri musik. Lagu bukan hanya sekadar karya seni, melainkan juga aset bernilai ekonomi tinggi. Setiap nada, lirik, dan aransemen bisa menjadi dasar perdebatan tentang siapa yang paling berhak mendapatkan bagian terbesar. Ketika karya itu melintasi dekade dan terus menghasilkan uang, pertanyaan soal keadilan dalam pembagiannya pun semakin mendesak untuk dijawab.
Di sisi lain, para penggemar berharap sengketa ini tidak semakin merenggangkan hubungan personal antara Sting dan Summers. Banyak yang berpendapat bahwa lebih indah jika persoalan ini diselesaikan secara damai, dengan mengingat kembali semangat kebersamaan yang dulu melahirkan lagu-lagu monumental. “Kami ingin melihat mereka berdamai, bukan saling serang di pengadilan,” tulis salah satu penggemar di media sosial.
Pengamat musik menilai, konflik seperti ini sebenarnya bisa menjadi pelajaran penting bagi generasi musisi berikutnya. Bahwa kontrak, pembagian hak cipta, dan kejelasan soal kepemilikan karya harus dibicarakan sejak awal, bukan setelah karya itu meledak. Transparansi menjadi kunci agar hubungan profesional tidak berubah menjadi pertikaian personal.
Terlepas dari dinamika yang kini terjadi, warisan The Police tetap tak tergantikan. Musik mereka sudah menembus batas waktu, menjadi bagian dari sejarah budaya populer dunia. Baik Sting, Andy Summers, maupun Stewart Copeland telah memberikan kontribusi besar bagi dunia musik. Harapannya, kisah perseteruan ini tidak meredupkan cahaya yang sudah mereka torehkan.
Apakah kasus ini akan berakhir dengan mediasi damai, atau justru berlanjut panjang di meja hijau, waktu yang akan menjawabnya. Namun satu hal yang pasti, publik kini kembali mengingat betapa besar pengaruh The Police dan betapa rumitnya dunia di balik lagu-lagu indah yang terdengar sederhana.